Laman

Selasa, 08 Januari 2013

Petunjuk Dasar Hidup


JAM                6 - 8              8 - 11            11 - 12               12 - 13            3 - 6
--------------------------------------------------------------------------------------------
JUM’AT       KOSONG       MAYAT         HIDUP            PULANG         BERISI
                                                                                           POKOK
--------------------------------------------------------------------------------------------
SABTU        BERISI           KOSONG      PULANG            HIDUP          MAYAT
                                                                 KOSONG
--------------------------------------------------------------------------------------------
MINGGU    PULANG        HIDUP           MAYAT            BERISI          KOSONG
                    KOSONG
--------------------------------------------------------------------------------------------
SENIN         KOSONG       MAYAT        BERISI             PULANG         HIDUP
                                                                                          KOSONG
--------------------------------------------------------------------------------------------
SELASA      PULANG      KOSONG       HIDUP              MAYAT          BERISI
                    KOSONG
--------------------------------------------------------------------------------------------
RABU          HIDUP          MAYAT         BERISI             KOSONG        PULANG
                                                                                                                  KOSONG
--------------------------------------------------------------------------------------------
KAMIS       PULANG      KOSONG        HIDUP             MAYAT             BERISI
                                                                                                                    POKOK
--------------------------------------------------------------------------------------------

Petunjuk Dasar Hidup
IniBiasanya dipakai ketika kita akan memulaisesuatu :

Lontara Penunjuk WAKTU


I'm Waiting

Gerhana dan Petir (Makassar)


Gerhana dan Petir dalam Pengetahuan Orang Makassar
Suku Makassar sebagai salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan telah meninggalkan jejak pengetahuan yang luhur. Salah satunya tentang pertanda peristiwa gerhana (Akkanre Lekoka) dan petir (Pannujuanna Gunturuka). Pengetahuan ini mengisyaratkan pentingnya sebuah ketelitian dalam mengamati peristiwa alam. Di sisi lain, hal ini menunjukkan betapa bahasa simbol telah menjadi bagian hidup orang Makassar sejak dulu.
Secara umum, Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka mengajarkan bahwa gerhana dan petir memiliki hubungan yang erat dengan bulan dan hari. Perbedaan bulan dan hari menjadi pertanda berbeda akan lahirnya peristiwa di suatu negeri, baik peristiwa yang menguntungkan ataupun yang merugikan. Untuk menyikapinya, leluhur orang Makassar menganjurkan agar memperbanyak sedekah dan berdoa. 

Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka 
Konsep gerhana (Akkanre Lekoka) berbeda dengan konsep petir (Pannujuanna Gunturuka). Dalam membaca peristiwa gerhana, leluhur orang Makassar menghubungkannya dengan bulan terjadinya peristiwa. Sementara itu, peristiwa petir dihubungkan dengan hari terjadinya peristiwa. Berikut penjelasannya:

Konsep Gerhana (Akkanre Lekoka)
  • Bulan Muharam. Jika gerhana terjadi pada bulan ini, maka akan banyak kerusakan di suatu negeri, juga banyak keresahan yang akan dialami oleh para penguasa dan rakyatnya. Oleh karena itu, perbanyaklah memberi sedekah kepada fakir miskin.
  • Bulan Safar. Jika terjadi pada bulan ini, maka hujan akan sedikit turun, bahan pangan mahal, namun akan datang pembesar dari luar negeri yang akan membawa kebaikan bagi penduduk negeri. 
  • Bulan Rabbiul Awal. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan datang wabah penyakit dan bahan pangan akan mahal. Akan tetapi, setelah itu akan datang banyak rezeki, masyarakat sejahtera, namun ada pembesar di suatu negeri yang akan mati.
  • Bulan Rabbiul Akhir. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan datang hawa dingin dan banyak orang sakit dan mati.
  • Bulan Jumadil Akhir. Jika terjadi pada bulan ini, pertanda penduduk negeri akan mendapat kebaikan dan berkah dari Tuhan, hati pemimpin akan senang, dan buah-buahan banyak, dan bahan pangan mudah didapat.
  • Bulan Jumadil Awal. Jika terjadi pada bulan ini, maka curah hujan akan banyak turun tahun itu. Namun, binatang peliharaan akan banyak yang mati.
  • Bulan Rajab. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan terjadi peperangan dan rakyat akan berselisih paham dengan penguasa. Akan tetapi, jika sudah lewat 3 bulan, akan muncul kedamaian dan Allah akan memudahkan rezeki.
  • Bulan Sya'ban. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu pertanda baik bagi penguasa dan rakyatnya, karena bahan pangan akan murah. 
  • Bulan Ramadhan. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu pertanda baik berupa anugerah Allah yang akan turun pada pertengahan tahun. Tetapi, pada akhir tahun biasanya akan datang angin topan serta gemuruh yang besar. 
  • Bulan Syawal. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu negeri dan rakyat akan susah, karena bahan pangan mahal dan akan datang angin topan.
  • Bulan Zulqaidah. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan datang kesulitan pada negeri, angin topan akan menerjang, dan terjadi perselisihan antara penguasa dan rakyat.
  • Bulan Zulhijah. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu pertanda bahan pangan mahal.

Konsep Guntur (Pannujuanna Gunturuka)
  • Sabtu. Jika petir menyambar di hari Sabtu pada siang hari, maka harga pangan akan murah. Namun, jika terjadi waktu Ashar, maka kemungkinan akan datang wabah penyakit dan penduduk akan saling berselisih. Oleh karena itu, dianjurkan untuk menjaga kerukunan dan bersedekah. 
  • Ahad. Jika terjadi petir pada hari Ahad siang, maka kesusahan akan datang, dan penduduk dianjurkan untuk bersedekah. Bilamana terjadi pada malam hari, maka ada 2 kemungkinan, yaitu akan datang wabah penyakit atau wabah kelaparan. 
  • Senin. Jika ada petir di hari ini, maka kebaikan akan datang, yakni berupa kesehatan, penguasa yang baik, dan pedagang meramaikan pasar sehingga bahan pangan mudah didapat. 
  • Selasa. Jika ada petir di hari ini, maka kesulitan akan menimpa penduduk dan banyak binatang akan mati terkena wabah penyakit. Oleh karena itu, penduduk dianjurkan memelihara negerinya agar bisa terlepas dari kesusahan dan dianjurkan bersedekah.
  • Rabu. Jika ada petir di hari ini, maka kebakaran akan melanda suatu negeri. Penduduk dianjurkan untuk melihat hari baik lalu mandi dan membersihkan diri, memperbanyak sedekah, dan puasa selama tiga hari. 
  • Kamis. Jika ada petir di hari ini, maka itu penduduk akan mendapat berkah dan ketenangan. Penduduk dianjurkan untuk banyak beramal agar rezeki terus ditambahkan oleh Tuhan. Selain itu, dianjurkan juga untuk sering melakukan shalat berjamaah.
  • Jumat. Jika ada petir pada hari ini, maka itu pertanda penguasa dan rakyatnya akan mendapat rezeki, karena mereka akan selamat dari bencana yang menimpa.

Pengetahuan orang Makassar tentang Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan, antara lain:
  1. Melestarikan tradisi. Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka merupakan tradisi yang penuh ajaran luhur, maka sudah selayaknya tradisi ini dipelihara. 
  2. Nilai Sastrawi. Nilai ini tercermin dari teks Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka sebagai karya sastra orang Makassar yang penuh makna. 
  3. Menerapkan ajaran Islam. Pengetahuan tentang Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka berhubungan erat dengan ajaran Islam tentang ketuhanan dan alam. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pengetahuan ini juga merupakan penerapan terhadap ajaran Islam. 
  4. Memahami gejala alam. Nilai ini tercermin dari peristiwa gerhana dan petir. Meskipun peristiwa keduanya alamiah dan rutin, manusia dituntut untuk mengambil makna dari tanda-tanda yang ada lalu menghubungkannya waktu peristiwanya. 
Pengetahuan orang Makassar tentang Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka membuktikan bahwa leluhur mereka memahami tanda-tanda alam dengan baik. Mereka dapat menggabungkan tanda-tanda alam dengan ajaran Islam.

Lontara Kutika Bilangeng Duappulo (Kalender Pernikahan)


Pendahuluan

Dalam Masyarakat Bugis Makassar sangat memberikan ruang khusus dan sangat istimewa dan dijadikan bagian dari adat dan budaya. Bagi masyarakat Bugis Makassar pernikahan adalah suatu hal yang sakral yang merupakan suatu pengukuhan dua pasang manusia yakni Pria dan Wanita yang diikat dalam satu kesatuan utuh yang diharapkan selalu bersama hingga akhir hayat.

Sehingga pernikahan juga hendaknya butuh perencanaan yang kuat karena ini merupakan pertaruhan masa depan. Tempeddingngi sia laosiwali cinnaé, lao tungke’ uddanié ritosipurénréngngé (Machmud 1994:31-32).

Di tulisan ini mencoba melihat satu hal yang sering menjadi perhatian serius bagi masyrakat Bugis Makassar dalam proses pernikahan yakni penentuan hari pernikahan. Hal ini sering kita melihat ada beberapa hal yang sering diberikan ruang khusus untuk selalu berhati-hati dalam memilih hari yang baik untuk mengadakan acara pernikahan terutama dalam acara akad nikah dimana hari untuk acara pesta pernikahan tidak menjadi hal yang penting.

Salah satu yang menarik pada suatu perencanaan pernikahan yang sudah pasti dimana kedua belah pihak baik pihak Pria dan pihak Wanita telah setuju melakukan ikatan pernikahan adalah pada proses penentuan hari “H” yakni hari penentuan akad Nikah. Mau luttu’ massuajang, uki’ siputanrai, namusilolongemmua. Mahmud (1994:55) Kutika Bilangeng Duappulo 

Tulisan ini mencoba mengulas salah satu lontara tua yakni Kutika “Bilangeng Duappulo” yang berhubungan dengan pernikahan dalam masyarakat Bugis makassar. Dalam Tulisan Roger tol yang berjudul “Rolled up Bugis stories : A PARAKEET’S SONG OF AN OLD MARRIAGE CALENDAR” yang disampaikan pada Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia diMelbourne pada tanggal 1- 3 July 2008. Dalam tulisan tersebut pada halaman 14 sampai dengan halaman 17 memuat Kutika Bilange Duappulo. Kutika Bilangeng Duappulo ini menjadi satu dengan Sureq Baweng (Postingan Selanjutnya).

Dalam segi arti Kutika Bilangeng Duappulo berarti Hitungan Kalender 20 Hari yang menjelaskan hari baik dan buruk dalam melaksanakan acara pernikahan. Dalam Kutika Bilangeng Duappulo disebutkan 20 nama hari yaitu sebagai berikut :
  1. Pong
  2. Pang
  3. Lumawa
  4. Wajing
  5. Wunga Wunga
  6. Telettuq
  7. Anga
  8. Webbo
  9. Wagé
  10. Ceppa
  11. Tulé
  12. Aiéng
  13. Beruku
  14. Panirong
  15. Maua
  16. Dettia
  17. Soma
  18. Lakkaraq
  19. Jepati
  20. Tumpakale
Dari 20 Hari yang harusnya ada dalam Kutika Bilangeng Duappulo hanya ada 12 nama hari yang disebutkan dalam tulisan Roger Tol.

Dari Tulisan tersebut Roger Tool terlihat ada beberapa teks dalam gulungan lontara tersebut banyak yang hilang atau terpotong dan mungkin terhapus ini disebkan karena usia gulungan lontara walaupun ada kecenderungan gulungan lontara ini adalah hasil penulisan ulang sehingga hanya bagian-bagian inti saja yang ditulis. Namun dari 12 hari yg disebutkan ini sudah memberikan penjelasan yang cukup dan sangat baik sebagai acuan bagi masyarakat Bugis - Makassar dahulu khususnya dalam kegiatan acara pernikahan.

Berikut isi Lontara Kutika Bilangeng Duappulo

Makkedi Kunaéng Loloé, aléna Kajangenngé dé, bissu terruq akasaé napasaddaqé rakileq:‘Masagala mua paléq misseng ngi péjeppui wi esso riulorenngé ngi ri lino najaji tau iana ritu esso nabottinganngé ri lino najaji tau namasiga makkéwiring, nawa-nawanna ri laleng woroané makkunra, tennaullé naguliga, ina to pa|jajianna.. Apaq kua i essona parukuseng rigamminna, riala riabbottingeng, téa appudu makkalépu nawa-nawa ri lalenna. Apaq kua i essona, parukuseng rigamminna, ia ritu gumawana,riala riabbottingeng, masiga sipéso luséq, temmakkatta sipuppureng.
  • Apaq kua i essona parukuseng rigamminna, ariabonéa , riallaringeng maraka anaq, makkunrai maloloé, atarawijana, riala riabbottingeng, masiga i najajiang anaq, masiga to i mapparukuseng.
  • Apaq kua i esso na parukuseng rigammeinna, ia ritu ri ceppana, riala riabbottingeng, masiga assitoppong éloq, tessa i porenreng to i
  • Apaq kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu ri tuléna, riala riua bottingeng, téa i mattennga tau oroané maloloé. Ampaq makkua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu aresena, riala riabbottingeng, téa i tessakkarupeqa dallé simula jajina.
  • Apaq kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu béruku nna, riala riabbottingeng, masiga ncajiang anaq, parukuseng rigammeinna.
  • Apaq kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu pitironna, , riala riabbottingeng, masajang pulana mui dallé simula jajinna.
  • Apaq kua i esso na parukuseng rigammeinna, ia ritu Tanu’u’Ana, maua riala riabbottingeng, situ ju éloq taué, masiga ncajiang anaq, , makkunrai oroané, , masiga maparukuseng.
  • Apaq kua i essona, parukuseng rigammeinna ia ritu dettiana, riala riabbottingeng, téa i teppangkagareng sumangeqna wali-wali. 
  • Apaq kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu’u ri somana, riala riabbottingeng, pada maserro éloq siporenrengi luséq to i.
  • Apaq kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu ri tuléna, riala riabbottingeng, masiga paliweng cinna, ,oroané makkunrai, masiga sitoppong éloq.
  • Apaq kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ri ajeppattinna, riala riabbottingeng masiga ncajiang anaq, temmalala luséq to i ia ritu pakkalénna, téa i tetturuq béla. Apaq kua i wettu parukuseng rigammeinna baweng ronnang kuleppessang ri madduppa pettanngé.

Terjemahan
Kemudian berbicara Kunéng Loloé, yang berasal dari Kajang,, para Bissu Maha Tahu,Diikuti dengan suara petir yang begemuruh :'Jarang memang kita, tahu dan mengerti, hari-hari yang telah turun, ke dunia manusia, untuk mengetahui hari-hari baik dan buruk dalam acara pernikahan,, Dan pada umumnya banyak pasangan, dengan cepat bisa setuju apabila menentukan hari pernikahannya. Seharusnya dalam menetukan ini adalah meminta nasehat kepada orang tua atau tetua yang pandai mengenai hari, untuk melaksanakan pernikahan Jangan tergesa-gesa dalam menentukan, dan benar-benar berpikir jernih.

Inilah beberapa pesan hari-hari yang baik dan buruk dalam melaksankan pernikahan ;
  • Ketika hari untuk pernikahan, Jatuh pada hari Lumawa, pasangan ini akan selalu berbahagia dan sehidup semati.
  • Ketika hari untuk pernikahan.jatuh pada hari Webbo, Istri tidak pandai bertahan dan menunggu bila ditinggalkan , dan tidak pandai untuk mengurus anak-anak.
  • Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Wage , pasangan ini cepat memiliki keturunan, dan cepat hidup bahagia bersama-sama.
  • Ketika hari untuk pernikahan , jatuh pada hari Ceppa, pasangan ini akan meningkat satu sama lain,. dalam diliputi asmara cinta yang selalu bergelora.
  • Ketika hari untuk pernikahan jatuh pada hari Tule, pasangan ini selalu memilki kepastian dan tidak mudah putus asa. Bila mengambil hari ini,
  • Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Ariéng pasangan ini tentu banyak kebahagiaan, dan rezeki pun selalu meningkat.
  • Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Béruku, pasangan dengan cepat akan mendapatkan keturunan , dan selalu dalam kebersamaan baik suka dan duka.
  • Ketika hari untuk pernikahan , jatuh pada hari Panirong, pasangan ini ini diliputi kebahagiaan yang tidak terkira , selalu memiliki keberuntungan,
  • Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Maua, pasangan ini akan saling selalu saling mengasihi, dengan cepat memiliki keturunan, Dan Istri pandai dalam hidup bertentangga.
  • Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Dettia, Pasangan ini pasti diliputi dengan suasana yang kurang baik dan sering mengalami permasalahan dan benturan dalam rumah tangga. mereka karena karakter dari kedua belah pihak selalu dilupti hawa panas.
  • Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Soma, Pasangan ini akan saling mencintai, Sakinah dan penuh dengan gelora asmara.seperti jatuh pada hari Tule, setiap keinginan pasangan ini akan cepat terkabulkan, serta dalam rumah tangga pasangan iniselalu saling menghargai,menghormati dan mengenalsatu sama lain.
  • Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Jépati, Pasangan ini cepat memiliki keturunan dan mereka bahagia serta tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena cinta mereka.
Itulah Waktu-Waktu yang baik, untuk melaksanakan pernikahan , Inilah pesan dan nasehat kusampaikan hingga terbenamnya matahari.

Penutup
Betapa pentingnya pernikahan dalam masyarakat bugis Makassar sehingga beberapa hal penting dituliskan dalam sebuah naskah-naskah kuno. Lontara Kutika Bilangeng Duappulo yang menjadi satu dengan ‘Lontara Sureq baweng’ merupakan contoh satu dari sekian banyak naskah-naskah tua yang menjelaskan proses adat istidat masyarakat Bugis Makassar dalam memberikan pentingnya arti pernikahan.

Semoga naskah-naskah semacam ini menjadi inspirasi generasi Bugis Makassar untuk lebih mencintai dan menjaga adat istiadat dan Budaya sehingga ikut andil dalam melestarikannya. Dan terpenting adanya upaya bagi generasi Bugis Makassar untuk lebih memealajari khazanah Budaya dalam rangkaian edukasi terutama bidan penelitian dan penyelamatan naskah-naskah tua karena sangat disayangkan bila peneliti-peneliti asing yang lebih banyak berperan serta.

Selleng matundrung matakke makkure jawi jawi



Senin, 07 Januari 2013

Lontara Bugis


“Pannessaiengngi Rahasiana Ompona Ulengnge”
  • 3 ompona ulengnge. nari passuna neneta adam pole risuruga
  • 5 ompona ulengnge natelleng lopinna nabi nohong ritengngatasi
  • 12 ompona ulengnge naritunu nabi iberahim as pole nabi namrut rajana kapere’e
  • 16 ompona ulengnge nari buang nabi yusupu nori bujungnge kudaenna
  • 21 ompona ulengnge narilanti fir’aun puanna kapere’e
  • 24 ompona ulengnge yemme’i bale nabi yunus as ritengnga tasi’e
  • 25 ompona ulengnge nakenna tikka tana arab pitu taung ettana ananami nabalu naengka nanre

“Panessaiengngi Esso Natuju Muharram”
  • senin = mega dalle / mega bosi/mega anging
  • selasa = makura bosi / mega anana jaji / malessi taueruntu abala
  • rabu = mompo masagalae/ serrangi / mega tau masolang aga banna nasaba mabbettui bulue
  • kamis = maega ricu / mega bosi / masussai pemerintahange / menre maneng agagae
  • Jumat = biasa taue punoi baenena makanja asselena taneng tanengnge
  • sabtu = maega bosi biasa kedo tanae maega dalle
  • ahad = makanjai taneng tanenge makurang wassele

“Ompona Ulengnge”
  1. ompona ulengnge, “esso nyarangi majai yappanoreng bine, isaureng tennung yappatetongeng bola”
  2. ompona ulengnge, “esso jongai anana jaji mawijai, agi-agi ripegau madeceng manengngi, madeceng rilaungeng sompe, madeceng rilaungeng mamusu, pakalaki”
  3. ompona ulengnge, “esso singa’i maja yappabottingeng, yattanengeng, yappatettongeng bola, yappanoreng bine, yattaneneng, rilaungi wanua runtukki lasa”
  4. ompona ulengnge, “esso meongi najajiangngi ana oroane madeceng, madeceng yappanoreng bine, yappamulang balu-balu, yappabottingeng, yattanengeng”
  5. ompona ulengnge, “esso tedong nakennaki lasa maladdei, agi agi ripugau majamanengngi ritu, anana jaji madorakai, wettu natelleng lopinna nabi nohong”
  6. ompona ulengnge, ” esso laoi madeceng rialaungeng sompe, yappa bottingeng yangelliang olokolo, yappanoreng bine”
  7. ompona ulengnge, “esso balei maja tomminreng nakennaki lasa maladdei, madecengmi yonroi mebbu parewa pakkaja”
  8. ompona ulengnge, “esso sapingngi medeceng yappabottingeng, ateddengengngi masitta moi iruntu”
  9. ompona ulengnge, “esso asui rilaongengngi wanua runtukki abala, maja yappatetongeng bola, madeceng yonroi massinge”
  10. ompona ulengnge, “esso nagai najajianggi ana mancaji ana maufe masempo dalle, nakennaki lasa magatimui paja, makessing rilaungeng sompe, matteppang bibi ri pangempangnge.”
  11. ompona ulengnge, “esso macangngi madeceng ri laungeng wanua, yenrekeng mekkah, yappamulang balu-balu, makessing narekko engka anana jaji masmpo dalle”
  12. ompona ulengnge, “esso nyarangi madeceng rilaungeng makara-kara ri kantoroe pakalaki, madeceng ri yabbolang, yappammulang balu-balu”
  13. ompona ulengnge, ” esso gajai agi-agi ri jama maja manengngi ritu, laoki ri wanua runtuki lasa karing”
  14. ompona ulengnge, “esso sapingngi madeceng yappamulang balu-balu, yappatettongeng, yappabottingeng, rekko malasaki masitta paja, esso najajiangnge nabi sulaiman”
  15. ompona ulengnge, “esso bembe maja yappatetongeng bola tennasalai lasa bolata, rilaung wanua naka anajaji makanja tapi matengnge totona kawin”
  16. ompona ulengnge, “esso bawi madeceng yonroi taneng ana lorong-lorong, agi-agi rijama maja maneng rit, madeceng toi yonroi mebbu sepu doi (tabungeng)”
  17. ompona ulengnge, “esso jakariniai madeceng rialungeng sompe, madeceng rilaungeng madduta, rilauang tau mapparentae, malasaki magatti paja, ateddengeki magatti iruntu”
  18. ompona ulengnge, “esso sapingngi madeceng rilaungeng sompe, jajiang ana makessing rupa, esso ri ebbuna majanna ulengnge”
  19. ompona ulengnge, “esso monye’i madecengngi yappamulang balu-balu, rilauang wanua, jajiang ana masempo dallei”
  20. ompona ulengnge, ” esso walli madeceng rilauangeng madduta itarimaki insya allah, najajiangngi anana malampe sungei masempo dallei manyameng kininnawa toi lao ri padanna ri pancaji naiyya esso najaiangngi nabi ismail”
  21. ompona ulengnge, “esso macangngi najajiangi anana madorakai ri puangnge, maja yappabottingeng, madeceng yappamulangeng lanro bessi”
  22. ompona ulengnge, “esso tau esso ripanjajinna malaekae, madeceng rilauangeng sompe, rilaungeng mammusu pakalaki, idi rilaoi rikalaki, agi-agi rijama madeceng maneng, malasaki masittamui paja”
  23. ompona ulengnge, “esso ulai madeceng riappatettongeng bola, yappabottingeng, yappasangeng belle, maja yappanoreng bine, madeceng yonroi melli pakiang masitta tattamba”
  24. ompona ulengnge, ” esso pariwi maja yappabbottingeng maponco’i, madeceng yonroi lati arung, esso najajiangnge firaun, matoai bale nabi yunus, maja narekko anana jaji”
  25. ompona ulengnge, “esso anyarangi maja riloang sompe mateki rilaotta, riappabottingeng maponcoi, majai ri laoang mabbalu, esso najajiangngi iblis, najajiangngi anana madorakai”
  26. ompona ulengnge, “esso sarai madeceng rilaoang sompe, riangelliang, yappabottingeng, najajiangngi anana malampe sungei”
  27. ompona ulengnge, “esso ulengngi najajiangi anana maraja taoi ripadanna ripancaji ripuangnge, makessing riappanoreng bine sibawa mabbalu-balu”
  28. ompona ulengnge, “esso kalapungngi madeceng yonroi mabbu parewa pakkaja, rilaoang, yappabottingeng, yataneng-tanengeng”
  29. ompona ulengnge, “esso atiwi makessing rilaoang madduta, sompe cabigi, najajianggi anana pallasalasangngi”
  30. ompona ulengnge, “esso manningi madeceng yappamulang dangkang, mattaneng taneng, narekko rilaoangi wanua assarapi, najajiangi anana matinului pigau pasuroanna allahu taala, duae pajajianna iyana wettu ripancajinna esso wennie”

Lontara Sure' Baweng (Nasehat mencari Jodoh)


Kutipan Lontara Sure' Baweng

Makkedi Kunéng Loloé
Daéng Parénréng Ajué
bissu terru' akasaé
nalanyu-lanyué letté
napasaddaké rakile'
‘Iko mennang maloloé
rékkua lao ko mita
parukusemmu la élo'
musiduppa lao cemmé
makkunrai maloloé
aja'mu marakka-rakka
palutturi manu'-manu'
paddibola I duta
Madécéng cinampa' mua
madodong ri munri ritu
dallé' ripadallékangngéngngi

 (tentang nasihat dalam mencari jodoh)